alt text

Menuju Home schooling Group SD

Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah..

Read More.
alt text

Home Schooling Jadikan Anak Senang Belajar

Sekolah di rumah (home schooling) menjadikan anak lebih senang belajar, mengingat pola belajar ..

Read More.
Mallow

Menjadi Pintar dengan Tetap Fun

Apa itu homeschooling? Pada dasarnya homeschooling sebenarnya sama saja dengan sekolah biasa..

Read More.
Magnolia

Kami Belajar.

Ada nuansa berbeda yang terlihat di kesempatan malam tersebut. Ada Ustad yang mengenakan sarung, dan ada pula yang mengenakan busana formal sebagimana biasa..

Read More.
alt text

Sekolah Rumah, Mengapa tidak?

Ada tren baru di dunia pendidikan. Anak tak lagi disekolahkan di sekolah formal, tapi hanya belajar di rumah.

Read More.

ABOUT HSG

HSG adalah pendidikan yang melibatkan kerjasama yang sinergis.
Read more.. 

CONTACT

0341-7005026, 7610693, 081235605230, SMS CENTER 081805038481 .
Read more.. 

PENDAFTARAN

Untuk pendaftaran, lengkapi formulir dan masukan data yang diperlukan.
Read more.. 

OFFICE

Jl. Bendungan Sigura-gura V, Malang, Indonesia 65146.
Read more.. 
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (TQS Al-Baqarah : 261).

37 Kebiasaan Orangtua yang Mengakibatkan Perilaku Buruk Anak Seri 2

  • Selasa, 15 April 2014
  • by
  • Homeschooling group SD Khoiru Ummah 20 Malang
  • 37 Kebiasaan Orangtua yang Mengakibatkan Perilaku Buruk Anak Seri 2
    Tulisan berikut ini adalah lanjutan dari 37 Kebiasaan Orangtua yang Mengakibatkan Perilaku Buruk Anak

    6. Merendahkan Diri Sendiri
    Apa yang anda lakukan kalau melihat anak anda bermain Playstation lebih dari belajar? Mungkin yang sering kita ucapkan pada mereka, “Woy… mati in tuh PS nya, ntar dimarahin loh sama papa kalau pulang kerja!” Atau kita ungkapkan dengan pernyataan lain, namun tetap dengan figur yang mungkin ditakuti oleh anak pada saat itu. Contoh pernyataan ancaman di atas adalah ketika yang ditakuti adalah figur Papa.

    Perhatikanlah kalimat ancaman tersebut. Kita tidak sadar bahwa kita telah mengajarkan pada anak bahwa yang mampu untuk menghentikan mereka main PS adalah bapaknya, artinya figure yang hanya ditakuti adalah sang bapak. Maka jangan heran kalau jika anak tidak mengindahkan perkataan kita karena kita tidak mampu menghentikan mereka main PS.

    Apa yang sebaiknya kita lakukan?
    Siapkanlah aturan main sebelum kita bicara; setelah siap, dekati anak, tatap matanya, dan katakan dengan nada serius bahwa kita ingin ia berhenti main sekarang atau berikan pilihan, misal “Sayang, Papa/Mama ingin kamu mandi. Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi?” bila jawabannya “lima menit lagi Pa/Ma”. Kita jawab kembali, “Baik, kita sepakat setelah lima menit kamu mandi ya.” Tapi jika tidak berhenti setelah lima menit, dengan terpaksa papa/mama akan simpan PS nya di lemari sampai lusa”. Nah, persis setelah lima menit, dekati si anak, tatap matanya dan katakan sudah lima menit, tanpa tawar menawar atau kompromi lagi. Jika sang anak tidak nurut, segera laksanakan konsekuensinya.

    7. Ayah dan Bunda Tidak Kompak
    Mendidik anak bukan hanya tanggung jawab para ibu atau bapak saja, tapi keduanya. Orangtua harus memiliki kata sepakat dalam mendidik anak-anaknya. Anak dapat dengan mudah menangkap rasa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan bagi dirinya. Misal, seorang Ibu melarang anaknya menonton TV dan memintanya untuk mengerjakan PR, namun pada saat yang bersamaan, si bapak membela si anak dengan dalih tidak mengapa nonton TV terus agar anak tidak stress.

    Jika hal ini terjadi, anak akan menilai ibunya jahat dan bapaknya baik, akibatnya setiap kali ibunya memberi perintah, ia akan mulai melawan dengan berlindung di balik pembelaan bapaknya. Demikian juga pada kasus sebaliknya. Oleh karena itu, orang tua harus kompak dalam mendidik anak. Di hadapan anak, jangan sampai berbeda pendapat untuk hal2 yang berhubungan langsung dengan persoalan mendidik anak. Pada saat salah satu dari kita sedang mendidik anak, maka pasangan kita harus mendukungnya. Contoh, ketika si Ibu mendidik anaknya untuk berlaku baik terhadap si Kakak, dan si Ayah mengatakan ,”Kakak juga sih yang mulai duluan buat gara2…”. Idealnya, si Ayah mendukung pernyataan, “Betul kata Mama, Dik. Kakak juga perlu kamu sayang dan hormati…

    8. Campur Tangan Kakek, Nenek, Tante, atau Pihak Lain
    Pada saat kita sebagai orang tua sudah berusaha untuk kompak dan sepaham satu sama lain dalam mendidik anak-anak kita, tiba-tiba ada pihak ke-3 yang muncul dan cenderung membela si anak. Pihak ke-3 yang dimaksud seperti kakek, nenek, om, tante, atau pihak lain di luar keluarga inti.
    Seperti pada kebiasaan ke-7 (Ayah dan Bunda tidak Kompak), dampak ke anak tetap negatif bila dalam satu rumah terdapat pihak di luar keluarga inti yang ikut mendidik pada saat keluarga inti mendidik; Anak akan cenderung berlindung di balik orang yang membelanya. Anak juga cenderung melawan orang tuanya.

    Pastikan dan yakinkan kepada siapa pun yang tinggal di rumah kita untuk memiliki kesepakatan dalam mendidik dan tidak ikut campur pada saat proses pendidikan sedang dilakukan oleh kita sebagai orang tua si anak. Berikan pengertian sedemikian rupa dengan bahasa yang bisa diterima dengan baik oleh para pihak ke-3.

    9. Menakuti Anak
    Kebiasaan ini lazim dilakukan oleh para orang tua pada saat anak menangis dan berusaha untuk menenangkannya. Kita juga terbiasa mengancam anak untuk mengalihkan perhatiannya, “Awas ada Pak Satpam, ga boleh beli mainan itu!” Hasilnya memang anak sering kali berhenti merengek atau menangis, namun secara tidak sadar kita telah menanamkan rasa takut atau benci pada institusi atau pihak yang kita sebutkan.Sebaiknya, berkatalah jujur dan berikan pengertian pada anak seperti kita memberi pengertian kepada orang dewasa karena sesungguhnya anak2 juga mampu berpikir dewasa. Jika anak tetap memaksa, katakanlah dengan penuh pengertian dan tataplah matanya, “Kamu boleh menangis, tapi Papa/Mama tetap tidak akan membelikan permen.” Biarkan anak kita yang memaksa tadi menangis hingga diam dengan sendirinya.

    10. Ucapan dan Tindakan Tidak Sesuai
    Berlaku konsisten mutlak diperlukan dalam mendidk anak. Konsisten merupakan keseuaian antara yang dinyatakan dan tidakan. Anak memiliki ingatan yang tajam terhadap suatu janji, dan ia sanga menghormati orang-orang yang menepati janji baik untuk beri hadiah atau janji untuk memberi sanksi. So, jangan pernah mengumbar janji ada anak dengan tujuan untuk merayunya, agar ia mengikuti permintaan kita seperti segera mandi, selalu belajar, tidak menonton televisi.
    Pikirlah terlebih dahulu sebelum berjanji apakah kita benar-benar bisa memenuhi janji tersebut. Jika ada janji yang tidak bisa terpenuhi segeralah minta maaf, berikan alasan yang jujur dan minta dia untuk menentukan apa yang kita bisa lakukan bersama anak untuk mengganti janji itu. [...bersambung]
    Read More...

    ** Syifa Binti Abdullah, Guru Perempuan Pertama dalam Sejarah Islam

  • by
  • Homeschooling group SD Khoiru Ummah 20 Malang
  • Tahukah kamu, Syifa Binti Abdullah ra adalah seorang qadhi (hakim) perempuan yang ditunjuk oleh khalifah Umar bin Khatab ra untuk mengawasi kecurangan di pasar-pasar? Dia juga memiliki otoritas untuk menghukum pihak yang bersalah jika ketahuan melakukan malpraktek.

    Syifa binti abdullah adalah seorang ulama perempuan yang cerdas, Umar bin Khatab ra selalu mendengarkan pendapat-pendapatnya. Syifa binti abdullah ra juga seorang guru perempuan pertama dalam sejarah Islam, salah satu muridnya adalah ummul mukminin Hafshah binti Umar bin Khatab ra. Dia pun diberkahi dengan pengetahuan di bidang kedokteran.

    Suatu ketika Syifa berkunjung ke rumah Nabi SAW. “Ajarkanlah pada Hafshah tentang sakit anesthesia (mati rasa), sebagaimana kau mengajarinya menulis!” kata Rasulullah.
    Bahkan Nabi SAW mengakuinya sebagai tempat bagi dokter ahli mata (ophthalmologist), dan keahlian itu diturunkan pada anaknya, Sulaiman.

    Syifa binti Abdullah juga seorang perawi hadits. Dia meriwayatkan beberapa hadits dari Nabi saw, juga dari Umar bin Khathab. Beberapa orang ikut meriwayatkan hadits yang berasal darinya, seperti anaknya Sulaiman bin Abu Khaitsumah, kedua cucunya (Abu Bakar dan Utsman), Abu Ishaq, dan Hafshah Ummul Mukminin. Abu Daud juga meriwayatkan hadits yang berasal dari periwayatannya.
    Sahabiyah ini adalah seorang perempuan multi talenta yang sangat didukung oleh Islam, kehidupan Syifa adalah contoh bagi perempuan semua generasi.

    Islam telah memberikan posisi terhormat ini pada perempuan 14 abad yang lalu, ketika seluruh dunia masih menindas perempuan dan hanya menganggapnya sebagai objek semata. Kisah Syifa ra dan sahabiyah lainnya menunjukkan pada kita bahwa hanya Islamlah yang dapat memerdekakan perempuan di dunia ini![]
    Read More...
    Our Fans Page
     
    Aircraft carrier : Slider Demo Costa Atlantica : Demo Slider Fred. Olsen Cruise Lines : Easy Slider Demo
    Copyright (c) 2012 Web Design by Neo Desain
    Sponsored by : Indoiklanmedia