alt text

Menuju Home schooling Group SD

Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah..

Read More.
alt text

Home Schooling Jadikan Anak Senang Belajar

Sekolah di rumah (home schooling) menjadikan anak lebih senang belajar, mengingat pola belajar ..

Read More.
Mallow

Menjadi Pintar dengan Tetap Fun

Apa itu homeschooling? Pada dasarnya homeschooling sebenarnya sama saja dengan sekolah biasa..

Read More.
Magnolia

Kami Belajar.

Ada nuansa berbeda yang terlihat di kesempatan malam tersebut. Ada Ustad yang mengenakan sarung, dan ada pula yang mengenakan busana formal sebagimana biasa..

Read More.
alt text

Sekolah Rumah, Mengapa tidak?

Ada tren baru di dunia pendidikan. Anak tak lagi disekolahkan di sekolah formal, tapi hanya belajar di rumah.

Read More.

ABOUT HSG

HSG adalah pendidikan yang melibatkan kerjasama yang sinergis.
Read more.. 

CONTACT

0341-7005026, 7610693, 081235605230, SMS CENTER 081805038481 .
Read more.. 

PENDAFTARAN

Untuk pendaftaran, lengkapi formulir dan masukan data yang diperlukan.
Read more.. 

OFFICE

Jl. Bendungan Sigura-gura V, Malang, Indonesia 65146.
Read more.. 
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (TQS Al-Baqarah : 261).

Saad bin Abi Waqqash: Pahlawan Qadisiyah yang Ahli Panah

  • Senin, 26 Januari 2015
  • by
  • Homeschooling group SD Khoiru Ummah 20 Malang

  • KALA cahaya nubuwat mulai memancar di Makkah, Saad adalah seorang pemuda yang gagah, lembut hati, dan sangat berbakti kepada orang tua, terutama kepada ibunya. Di usianya yang masih belia, Saad memiliki jalan pikiran laiknya orang dewasa. Dia tak suka bermain-main seperti pemuda sebayanya.
    Kegemarannya adalah pada peralatan perang, seperti bermain panah atau membetulkan busur dan menggunakan perisai, seakan-akan sedang bersiap-siap menghadapi perang besar. Dia juga benci menghadapi kebobrokan dan rusaknya kepercayaan yang melanda kaumnya. Dia menunggu datangnya sepasang tangan kokoh yang mampu membenahi umat yang hidup dalam kegelapan itu.

    Dengan kehendak Allah yang senantiasa menghargai kemanusiaan, sepasang tangan yang penuh kasih sayang terulur. Tangan itu adalah tangan Muhammad bin Abdillah. Di dalam genggamannya, tercakup karunia Allah yang tak pernah rusak, yaitu Kitabullah.
    Saad cepat sekali menyambut panggilan hidayah dan kebenaran itu. Bahkan beliau merupakan orang ketiga yang memeluk Islam. Beliau berkata, “Pada hari aku masuk Islam, tidak ada orang lain yang menyertaiku. Aku menanti seminggu lamanya, dan sesungguhnya aku ini sepertiga Islam (artinya, orang ketiga yang masuk Islam).”
    Kerabat Rasulullah
    Rasulullah sangat gembira dengan keislaman Saad bin Abi Waqqash. Sebab, dalam diri pemuda ini terdapat kecerdasan dan tanda-tanda kepahlawanan, seakan memberi pertanda bahwa bulan sabit akan segera menjadi bulat sempurna dalam waktu dekat. Selain itu, Saad juga masih terhitung keluarga Rasulullah. Saad berasal dari kabilah Zuhrah, sama dengan ibu Rasulullah. Beliau adalah anak dari paman Aminah (ibunda Rasulullah). Jadi, secara silsilah, Saad adalah paman Rasulullah, karena beliau adalah sepupu ibu Rasulullah.
    Rasulullah sendiri sering membanggakan pamannya yang belia ini. Suatu kali, beliau tengah duduk di tengah kerumunan para sahabat. Melihat Saad datang, beliau berkata, “Ini pamanku. Setiap orang boleh menunjukkan pamannya masing-masing, bukan?” Tidak berlebihan kiranya jika Rasulullah membanggakan Saad. Beliau adalah orang yang berbudi luhur, akhlaknya mulia, lagi teguh imannya.
    Terbukti, beliau menyertai suka-duka perjuangan Rasulullah sepanjang masa awal dakwah Islam. Beliau turut merasakan masa-masa sulit pemboikotan terhadap kaum muslimin di Syi’b Makkah. Beliau katakan, ”Ketika kaum muslimin diboikot dan dikucilkan di Syi’b Makkah, hampir tiga tahun lamanya yang kami makan bersama Rasulullah adalah daun-daunan. Sehingga, kotoran kami menyerupai kotoran domba.” Beliau juga ikut serta dalam perang Badar. Perang di mana beliau harus kehilangan adiknya tercinta, Umair bin Abi Waqqash.
    Ujian juga datang dari keluarga beliau. Ketika mengetahui putranya memeluk Islam, ibu Saad marah besar dan mengancam akan mogok makan jika beliau tidak mau kembali kepada agama Quraisy. Namun, hingga ancaman itu dibuktikan selama beberapa hari oleh ibunya, Saad tetap teguh dalam Islam. Sampai-sampai, ibunya pingsan dan dikhawatirkan meninggal pun, Saad tetap tak merubah sikap. Dengan tegas beliau nyatakan, “Wahai ibu. Demi Allah, jika ibu memiliki seratus nyawa sekalipun, dan nyawa itu hilang satu demi satu, aku tidak akan meninggalkan agamaku karena ibu.”
    Sikap tegas yang diperlihatkan Saad atas agama yang diyakininya ini mampu meluluhkan hati ibunya hingga mau makan kembali. Tentang peristiwa ini, Allah menurunkan ayat,
    “Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua ibu-bapaknya, dna jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” (Al-Ankabut: 8)
    Ahli Panah
    Pada perang Uhud, ketika pasukan Islam berhasil diporak-porandakan musuh, Saad termasuk sepuluh orang yang tersisa dan tetap bertahan melindungi Rasulullah. Dengan busur dan panahnya, beliau menghalau musuh yang berusahan menyerang Rasulullah. Di saat-saat genting seperti itu, Rasulullah berseru menyemangati Saad,
    ارْمِ سَعْدُ ارْمِ … فِدَاكَ أَبِيْ وَأُمِّيْ!
    “Bidiklah, Saad! Bidik! Demi ayah bundaku sebagai tebusanmu.”
    Saad menjadikan kata-kata Rasulullah ini sebagai kebanggaan seumur hidup. Sebab, Rasulullah sampai menyebut kedua orang tuanya sebagai pengorbanan.
    Di kalangan para sahabat, saad dikenal sebagai orang yang jago memanah. Bidikannya jarang meleset. Ini berkat doa Rasulullah untuk beliau. Saad menuturkan, bahwa Rasulullah pernah berdoa,
    اللَّهُمَّ سَدِّدْ رَمْيَهُ وَ أَجِبْ دَعْوَتَهُ
    “Ya Allah, jadikanlah bidikan anak panahnya jitu dan kabulkan doanya.”
    Kemudian, Allah mengabulkan doa Rasulullah tersebut. Setiap kali Saad melepas panahnya, pasti tepat mengenai sasaran. Dan juga, setiap kali Saad memanjatkan doa kepada Allah, doanya pasti dikabulkan. Dalam setiap peperangan, beliau mampu mengalahkan lawan.
    Dalam tarikh Islam, tercatat bahwa muslim pertama yang membidikkan anak panah dalam peperangan adalah Saad bin Abi Waqqash. Dan sekaligus, beliau pulalah orang pertama yang terkena panah lawan.
    Perang Qadisiyah
    ‘Debut’ terbesar Saad dalam karir militernya ialah kesuksesannya membawa pasukan Islam memenangi pertempuran melawan tentara Persia dalam perang Qadisiyah, di masa kekhilafahan Umar bin Khathab. Perang tersebut menandai runtuhnya kedaulatan Persia sebagai super power dunia kala itu. Segala simbol paganisme habis diberantas sampai ke akar-akarnya.
    Untuk menghadapi Persia, Khalifah Umar bin Khathab menulis surat kepada para stafnya di seluruh negeri Islam agar mengirimkan bantuan moral maupun spiritual untuk memperkuat pasukan. Siapa saja yang memiliki senjata, kuda, unta, atau pemikiran, syair-syair, kemampuan pidato, dan lain-lain boleh membantu. Semua aspek disinergikan demi menghadapi kekuatan Persia.
    Sejak pengumuman dibuat oleh khalifah, berbagai bantuan pun mulai mengalir ke Madinah. Setelah segala persiapan diniali cukup, khalifah bermusyawarah dengan beberapa sahabat pilihan, untuk menentukan panglima yang akan memimpin pasukan. Semua anggota musyawarah sepakat untuk menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Saad bin Abi Waqqash.
    Ketika itu, Saad memimpin segelaran pasukan besar yang berjumlah lebih dari 30.000 personel. Komposisi pasukan itu adalah orang-orang pilihan. Sebab, lawan mereka kali ini pun bukan sembarangan. Di antara jumlah pasukan itu, 99 orang merupakan ahlu (peserta perang) Badar, 318 orang yang pernah hadir dalam prosesi baiat Ridhwan, 300 orang veteran Fathu Makkah dan 700 orang putra-putra sahabat.
    Untuk misi besar ini, Saad memilih Qadisiyah sebagai pangkalan militernya. Menjelang perang dimulai, sang panglima jatuh sakit. Kian hari kian bertambah parah dan belum menampakkan tanda-tanda kesembuhan dalam waktu dekat. Keadaan ini tidak memungkinkan beliau menunggang kuda dan memimpin pasukan secara langsung. Akhirnya, beliau mendaulat Khalid bin Arfathah sebagai pengganti beliau di lapangan. Kepada para komandan lapangan, Saad berkirim surat. Bunyinya,
    “Aku telah mengangkat Khalid bin Arfathah sebagai penggantiku. Aku berhalangan karena sakit di kakiku dan timbulnya bisul-bisul. Tetapi aku tetap  mengarahkan wajah dan diriku untuk mengikuti jalannya pertempuran. Dengarkan dan taati kepemimpinannya, dia yang memerintah tetapi mengerjakan perintahku.”
    Perang Qadisiyah berlangsung beberapa hari lamanya. Ketika kedua pasukan berhadapan dan siap saling menyerang, Saad memerintahkan agar pasukan tetap berada di tempat sampai shalat zhuhur usai ditunaikan. Seusai shalat, Saad meneriakkan takbir dengan diikuti oleh suara gemuruh pasukan yang bersiap siaga.
    Takbir kedua beliau diikuti oleh pasukan yang segera mengenakan perlengkapan perang. Takbir yang ketiga diikuti pula dan disambut pasukan berkuda yang bersiap diri. Dan barulah pada kode takbir yang keempat, pasukan bergerak ke depan (advance) dan membenamkan diri ke barisan musuh dengan pedang dan tombak di tangan diiringi ucapan,
    لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
    “Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.”
    Dengan kepiawaian Saad dalam memimpin pasukan, taktik dan strateginya yang matang, serta berkat taufik Allah, akhirnya tentara Islam meraih kemenangan besar di Qadisiyah. Saad mengirim seluruh laporan peperangan termasuk nama-nama prajurit yang syahid kepada khalifah Umar di Madinah.
    Setelah mengambil jeda dua bulan, pasukan Saad melaju ke negeri Persia dan berhasil menguasai ibu kotanya yang terletak di sebelah timur sungai Dajlah, pada bulan Jumadil Awal tahun 15 H. Istana raja Persia mereka masuki dan tempat pemujaan api dalam ruangan istana (yang menjadi pusat pemujaan kaum Majusi) dipadamkan apinya dan diganti dengan dibangunnya sebuah masjid.
    Wafatnya Pahlawan Qadisiyah
    Saad bin Abi Waqqash hidup hingga usia lanjut. Beliau merupakan sahabat dari kalangan Muhajirin yang meninggal terakhir kali (maksudnya; dari kaum laki-lakinya). Ketika menjelang wafat, beliau mempersiapkan peti simpanannya. Peti itu berisi jubah tua yang dikenakannya dalam perang Badar dahulu. Beliau meminta seseorang mengambilkan peti itu dan berpesan,
    “Bila aku mati, kafanilah aku dengan jubah wol ini. Dulu aku memakainya saat melawan kaum musyrikin pada perang Badar. Dan aku sengaja menyimpannya karena aku ingin menghadap Allah dengan mengenakannya.”
    Semoga Allah meridhai beliau.*Sumber
    Read More...

    Memilih Sekolah Terbaik Untuk Anak

  • Selasa, 13 Januari 2015
  • by
  • Homeschooling group SD Khoiru Ummah 20 Malang
  • Orangtua yang baik tentu akan berupaya memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Karena itu memilih lembaga pendidikan terbaik bagi anaknya akan menjadi perhatian yang serius.

    Saat ini, jika Anda mau memilih sekolah yang berkualitas, konsekuensinya harus memilih sekolah swasta. Knsekuesi lanjutnya, Anda harus merogoh kocek lebih dalam dibanding jika memilih sekolah umum (sekolah negeri).

    Mudah Memilih Sekolah dalam Khilafah
    Fenomena sulitnya mencari sekolah berkualitas ini tidak pernah terjadi ketika Islam berjaya dan diterapkan sistem pendidikan Islam oleh institusi Khilafah Islamiyah. Pasalnya, pendidikan dalam pandangan Islam merupakan salah satu kebutuhan primer bagi rakyat secara keseluruhan. Karena itu negara wajib membuka dan membangun sekolah-sekolah dasar, menengah maupun pendidikan tinggi dalam jumlah yang memadai sesuai dengan jumlah rakyatnya. Setiap sekolah juga harus memiliki kualitas yang terjamin baik dari muatan pendidikannya maupun sarana dan prasarananya.

    Dari sisi muatan pendidikan, sekolah menerapkan kurikulum Daulah Islam yang mengarahkan anak didik menjadi manusia yang berkepribadian (syakshiyyah) islami; pola pikir dan pola sikapnya berlandaskan akidah Islam. Dengan kurikulum Islam yang komprehensif tersebut anak didik dipersiapkan untuk menjadi manusia yang menguasai ilmu agama (tsaqafah Islam) sekaligus ilmu-imu sain dan keahlian yang dibutuhkan dalam mengarungi kehidupan ini. Mereka juga diarahkan untuk menjadi pribadi-pribadi yang matang, mandiri dan memimpin umat menuju kemajuan di segala bidang kehidupan.

    Adapun sarana dan prasarana pendidikan yang sangat menunjang keberhasilan dalam proses pendidikan juga sangat diperhatikan keberadaan dan kualitasnya. Setiap kegiatan pendidikan dilengkapi dengan sarana-sarana fisik yang mendorong terlaksananya program dan kegiatan pendidikan sesuai dengan kreativitas, daya cipta dan kebutuhan. Itu mencakup bangunan gedung sekolah, asrama siswa, perumahan staf pengajar/guru, buku-buku pelajaran, perpustakaan, laboratorium, ruang seminar-auditorium tempat aktivitas diskusi, majalah, surat kabar, radio, televisi, komputer, dan lain sebagainya.  Semua sarana tersebut disediakan dalam jumlah yang memadai, berkualitas baik, dan yang paling penting adalah gratis.

    Dengan kebijakan pendidikan dalam Daulah Khilafah demikian, para orangtua tidak perlu bingung memilih sekolah bagi buah hatinya. Semua sekolah yang didirikan Negara Khilafah adalah sekolah dengan standar terbaik dan gratis. Kalau pun ada sekolah swasta yang didirikan oleh masyarakat yang peduli terhadap pendidikan, tidak akan mengambil keuntungan materi seperti di alam kapitalis saat ini. Pasalnya, mereka yang mendirikan sekolah tersebut hanya berharap amal shalih mereka menjadi amal jariyah. Walhasil, orangtua tinggal memberikan arahan dan motivasi yang kuat kepada anak-anaknya agar bersungguh-sungguh dalam menjalani program pendidikannya.

    Menakar Sekolah Unggulan
    Pendidikan ideal melibatkan tiga unsur pelaksana: keluarga, sekolah dan masyarakat. Dalam pendidikan sekular, ketiga unsur pelaksana tersebut belum berjalan secara sinergis. Bahkan masing-masing belum berfungsi secara benar. Saat di tengah masyarakat terjadi interaksi antar ketiganya, maka dampak negatif masing-masing   akan memberikan pengaruh kepada unsur yang lain. Artinya, saat pendidikan anak di rumah buruk, itu akan memberi beban berat kepada sekolah, dan menambah keruwetan persoalan di tengah masyarakat seperti terjadinya tawuran pelajar, seks bebas, narkoba dan sebagainya. Situasi masyarakat yang buruk jelas akan membuat nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil ditanamkan di tengah keluarga dan sekolah menjadi kurang optimal. Apalagi bila pendidikan yang diterima di sekolah juga kurang bagus, maka lengkaplah kehancuran dari tiga pilar pendidikan tersebut.

    Meski Khilafah Islam belum berdiri, tentu kita tetap harus memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak kita. Unsur pelaksana pendidikannya harus bisa sinergis dan memberikan pengaruh positif kepada anak. Dengan begitu arah dan tujuan pendidikan didukung dan dicapai secara bersama-sama.
    Dalam konteks pendidikan kekinian, sinergis tiga pilar pendidikan jarang tercapai di lembaga pendidikan umum. Munculnya sekolah unggulan pun akhirnya menjadi alternatif para orangtua yang peduli terhadap pendidikan buah hatinya. Bahkan masyarakat mulai menyadari bahwa sekolah unggulan saja dianggap kurang cukup manakala pendidikan agama di sekolah kurang memadai. Karena itu bermunculanlah sekolah Islam unggulan dengan berbagai identitasnya seperti Sekolah Islam Terpadu, Sekolah Islam Plus, Sekolah Islam Program Khusus dan masih banyak lagi jenisnya.
    Sekarang ini ada sekolah yang memberikan “jaminan” setelah lulus hapal 30 juz, mahir dalam bidang komputer dan eksakta, pandai berbahasa Arab dan Inggris, serta ketrampilan-ketrampilan lainnya. Lalu sekolah mana yang kira-kira tepat dan dibutuhkan anak kita pada masa yang akan datang?

    Memilih Sekolah Terbaik
    Berikut beberapa hal yang perlu dijadikan pertimbangan dalam memilih lembaga pendidikan terbaik untuk anak kita:
    1. Pilihlah lembaga pendidikan yang mengajarkan tsaqafah Islam yang dibutuhkan sesuai jenjang usia anak didik. Lebih baik lagi jika sekolah itu menerapkan kurikulum yang berbasis akidah Islam.
    2. Pilihlah lembaga pendidikan yang merekrut guru-guru yang profesional, amanah dan kafa’ah. Guru sangat menentukan dalam keberhasilan proses belajar-mengajar untuk membentuk syakshiyyah (kepribadian) anak didik karena guru akan menjadi teladan terdekat setelah kedua orangtuanya.
    3. Pilih lembaga pendidikan yang menjalankan proses belajar-mengajar secara islami. Para gurunya berusaha menyampaikan pelajaran dengan talqiy[an] fikriy[an], yakni dengan bahasa yang berpengaruh sehingga anak didik bisa benar-benar memahami pelajaran yang disampaikan (tidak hanya sekadar transfer ilmu)
    4. Pilihlah lembaga pendidikan dengan lingkungan dan budaya yang kondusif bagi pencapaian tujuan pendidikan secara optimal. Tidak hanya menanamkan pemikiran yang islami pada anak didik, tetapi juga menerapkan kebiasaan perilaku yang islami seperti mewajibkan seluruh personil (guru, karyawan dan siswa) menutup aurat, tidak campur-baur (ikhtilath) dengan lawan jenis dalam kegiatan belajar-mengajar, dll.
    5. Pilihlah lembaga pendidikan yang membuka lebar ruang interaksi dengan keluarga dan masyarakat agar keluarga dan masyarakat dapat berperan optimal dalam menunjang proses pendidikan. Sekolah berusaha menyatukan visi dan misi pendidikannya kepada pihak keluarga dan masyarakat sehingga kepribadian anak didik terbentuk secara utuh sesuai dengan Islam.
    Namun demikian, lagi-lagi orangtua terbentur pada satu kondisi; memilih sekolah-sekolah Islam unggulan bagi anaknya akan membutuhkan modal yang luar biasa, padahal kebutuhan hidup yang lain juga mendesak untuk dipenuhi. Maka dari itu, tentu tidak ada salahnya jika memilih selain sekolah unggulan dengan catatan: komitmen orangtua sebagai pendidik yang utama harus tinggi. Orangtua tidak boleh menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya kepada sekolah. Orangtua harus aktif terlibat dalam proses pendidikan terutama dalam implementasi penanaman nilai-nilai Islam yang mungkin kurang terkontrol di sekolah umum.

    Khatimah
    Pada akhirnya, memang harus ada upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan sistem pendidikan Islam dalam kerangka institusi Khilafah Islamiyah untuk mewujudkan kualitas pendidikan yang baik. Pasalnya, di tengah kungkungan sistem sekular saat ini, model pendidikan unggulan yang menerapkan kurikulum, suasana belajar dan sinergi antara tiga unsur pelaksana pendidikan sekalipun tidak akan sempurna. Pasalnya, negaralah yang memiliki seluruh otoritas yang diperlukan bagi penyelenggaraan pendidikan yang bermutu, termasuk penyediaan dana yang mencukupi, sarana, prasarana yang memadai dan sumberdaya manusia yang bermutu.

    Semoga masa itu segera terwujud sehingga orangtua tidak lagi galau memikirkan nasib pendidikan anaknya. WalLahu a’lam. Sumber
    Read More...
    Our Fans Page
     
    Aircraft carrier : Slider Demo Costa Atlantica : Demo Slider Fred. Olsen Cruise Lines : Easy Slider Demo
    Copyright (c) 2012 Web Design by Neo Desain
    Sponsored by : Indoiklanmedia