alt text

Menuju Home schooling Group SD

Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah..

Read More.
alt text

Home Schooling Jadikan Anak Senang Belajar

Sekolah di rumah (home schooling) menjadikan anak lebih senang belajar, mengingat pola belajar ..

Read More.
Mallow

Menjadi Pintar dengan Tetap Fun

Apa itu homeschooling? Pada dasarnya homeschooling sebenarnya sama saja dengan sekolah biasa..

Read More.
Magnolia

Kami Belajar.

Ada nuansa berbeda yang terlihat di kesempatan malam tersebut. Ada Ustad yang mengenakan sarung, dan ada pula yang mengenakan busana formal sebagimana biasa..

Read More.
alt text

Sekolah Rumah, Mengapa tidak?

Ada tren baru di dunia pendidikan. Anak tak lagi disekolahkan di sekolah formal, tapi hanya belajar di rumah.

Read More.

ABOUT HSG

HSG adalah pendidikan yang melibatkan kerjasama yang sinergis.
Read more.. 

CONTACT

0341-7005026, 7610693, 081235605230, SMS CENTER 081805038481 .
Read more.. 

PENDAFTARAN

Untuk pendaftaran, lengkapi formulir dan masukan data yang diperlukan.
Read more.. 

OFFICE

Jl. Bendungan Sigura-gura V, Malang, Indonesia 65146.
Read more.. 
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (TQS Al-Baqarah : 261).

** Ayo, Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

  • Senin, 18 Agustus 2014
  • by
  • Homeschooling group SD Khoiru Ummah 20 Malang
  • Generasi Khoiru Ummah yang dirahmati Allah SWT, ramadhan telah berlalu, mudah-mudahan semua ibadah kita diterima Allah SWT. Syawalpun akan segera meninggalkan kita. Bagi yang belum mengisi syawal dengan ibadadh shaum, mari kita guakan hari-hari di akhir syawal ini, untuk mendapatkan pahala berlimpah dengan berpuasa 6 hari. Berikut keutamaannya:

    Imam Abu Dawud rahimahullāh (semoga Allah senantiasa merahmatinya) meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Abi Ayyub sahabat Nabi saw yang mengatakan bahwa Nabi saw bersabda:
    مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهْرَ
    Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa satu tahun.

    Dalam ‘Aunul Ma’būd terdapat penjelasan (syarah) terkait hadits ini, yaitu: bahwa sabda Rasulullah saw: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal.” Hadits ini dan hadits-hadits lainnya yang sejenis adalah dalil disunnahkannya berpuasa enam hari di bulan Syawal. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i, Ahmad, Abu Dawud dan lainnya.
    Imam Nawawi dalam Syarah Muslim berkata bahwa para sahabat kami dalam madzhab Syafi’i mengatakan: “Dan yang lebih utama bahwa puasa enam hari itu dilakukan langsung setelah hari raya Idhul Fitri.” Imam Nawawi berkata: “Jika ia melakukan secara terpisah, atau menundanya dari awal Syawal ke akhir Syawal, maka ia masih mendapatkan fadhīlah (keutamaan) sunnahnya mengikuti (al-mutāba’ah), sebab hal itu termasuk dalam hadits “kemudian diikuti dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal.”

    Imam Nawawi juga berkata: Para ulama mengatakan sesungguhnya puasa enam hari bulan Syawal itu sama dengan puasa satu tahun, karena satu kebaikan sama dengan sepuluh kebaikan yang sama. Dimana puasa Ramadhan sama dengan sepuluh bulan, sedang puasa enam hari bulan Syawal sama dengan dua bulan. Hadits dalam hal ini telah diriwayatkan secara marfū’ (sampai ke Nabi) dalam kitab Imam an-Nasa’i.

    Al-Mundziri berkata: Imam Muslim, at-Tirmidzi, an Nasa’i dan Ibnu Majah telah meriwayatkannya.
    Sungguh Allah SWT telah menetapkan melalu sabda Rasulullah saw bahwa mengikuti puasa Ramadhan dengan puasa enam hari di bulan Syawal akan mendapatkan pahala yang besar, yaitu sama dengan puasa satu tahun. Apakah Anda termasuk orang yang mengikuti sunnah ini, dengan melakukan puasa enam hari di bulan Syawal, sehingga layak memperoleh pahala yang besar ini?!
    Kami memohon kepada Allah, semoga Allah menerima puasa Anda dan amal-amal kebaikan lainnya.
    Read More...

    ** 37 Kebiasaan Orangtua yang Mengakibatkan Perilaku Buruk Anak Seri 3

  • Selasa, 22 April 2014
  • by
  • Homeschooling group SD Khoiru Ummah 20 Malang
  • 37 Kebiasaan Orangtua yang Mengakibatkan Perilaku Buruk Anak Seri 3
    Kebiasaan 11 :
    Hadiah untuk perilaku buruk anak
    Pada saat kita bersama anak berada di tempat umum, si anak minta dibelikan mainan. Lalu kita katakan tidak boleh. Si anak terus merengek dan rengekannya semakin kuat hingga menjadi teriakan dan ada gerakan perlawanan. Kita tetap mengatakan tidak boleh. Dan pada saat kita berada di antrian bayar kasir, dia merengek lagi dengan kekuatan penuh untuk membuat kita malu di depan umum. Dan akhirnya, tibalah saat yang dinantikan oleh anak dengan mendengar pernyataan dari kita sebagai orang tua : “Ya sudah, kamu ambil satu. Satu saja ya!”.

    Apa akibatnya?
    Saat kita memberi pernyataan, …”Ya sudah, kamu ambil satu.” … kita telah memberikan hadiah pada perilaku buruk yang dilakukannya. Dan sejak saat itu juga, anak mempelajari sesuatu bahwa untuk bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkan maka dia harus membuat perlawanan yang cukup heboh di tempat yang “strategis”. Anak mempelajari bahwa apa pun permintaannya dapat dikabulkan bila melalui perlawanan yang gigih. Kejadian ini akan terus diulangi dan diuji-cobakan pada permintaan yang lain.

    Apa yang sebaiknya kita lakukan?
    Tetaplah berlaku konsisten, tidak perlu malu atau takut dikatakan sebagai orang tua yang ‘tega’ atau ‘kikir’. Ingatlah selalu bahwa kita sedang mendidik anak. Sekali kita konsisten, anak tak akan pernah mencobanya lagi. Ingat sekali lagi : tetaplah KONSISTEN dan pantang menyerah! Apa pun alasannya, jangan pernah memberi hadiah pada perilaku buruk si anak.

    Kebiasaan 12 :
    Merasa bersalah karena tidak bisa memberikan yang terbaik
    Dalam kehidupan saat ini, dimana sebagian besar orang tua banyak menghabiskan waktunya di kantor/ tempat kerja daripada bersama anaknya, menyebabkan banyak orang tua merasa bersalah atas situasi ini. Akibatnya para orang tua menyetujui perilaku buruk anaknya dengan ungkapan yang sering dilontarkan, “Biarlah dia seperti ini mungkin karena saya juga yang jarang bertemu dengannya…”

    Apa akibatnya?
    Semakin orang tua merasa bersalah terhadap keadaan, semakin banyak kita menyemai perilaku buruk anak kita. Semakin kita memaklumi perilaku buruk yang diperbuat anak, akan semakin sering ia melakukannya.

    Apa yang sebaiknya kita lakukan?
    Apa pun yang bisa kita berikan secara benar pada anak kita adalah hal yang terbaik. Tiap keluarga memiliki masalah yang unik, tidak sama. Ada orang punya kelebihan pada aspek financial tapi miskin waktu bertemu dengan anak, sebaliknya ada yang punya banyak waktu bersama tapi kekurangan dari sisi ekonomi. Jadi yakinlah bahwa dalam kondisi apa pun kita tetap bisa memberikan yang terbaik. Jadi, jangan pernah memaklumkan hal-hal yang tidak baik. Lakukanlah pendekatan kualitas jika kita hanya punya sedikit waktu, gunakan waktu yang minim itu untuk bisa berbagi rasa sepenuhnya dengan anak kita. Menyisihkan waktu di antara sisa-sisa tenaga kita, memang tidak mudah. Tapi lakukanlah demi mereka dan keluarga kita, maka akan terbiasa.

    Kebiasaan 13 :
    Mudah menyerah dan pasrah
    Pernahkah kita mengucapkan kata-kata : “Duh.. anak saya itu memang keras betul…saya tidak sanggup lagi untuk mengaturnya.” Atau “Biar sajalah, terserah apa maunya. Saya sudah tidak sanggup lagi untuk mendidiknya.”

    Apa akibatnya?
    Dalam kondisi kita sebagai orang tua tidak tegas dan mudah menyerah, si anak justru keras dan lebih tegas. Akibatnya dalam banyak hal, si anak jauh lebih dominan dan mengatur orang tuanya. Akibat lebih lanjut orang tua sulit mengendalikan perilaku anaknya dan cenderung pasrah.

    Apa yang sebaiknya kita lakukan?
    Belajar dan berusahalah dengan keras untuk menjadi lebih tegas dalam mengambil keputusan, tingkatkan watak keteguhan hati dan pantang menyerah. Bila kita mudah menyerah, kepada siapa kita akan melimpahkan tugas kita ini dalam mendidik anak?

    Kebiasaan 14 :
    Marah yang berlebihan
    Pernahkah kita memarahi anak kita karena melakukan kesalahan karena kelengahan kita menjaga mereka? Bahkan tidak jarang kita melakukan kekerasan fisik.

    Apa akibatnya?
    Sering kita menyamakan persepsi antara mendidik dan memarahi. Perlu diingat, memarahi adalah cara mendidik yang paling buruk. Pada saat memarahi anak, kita tidak sedang mendidik mereka, melainkan melampiaskan tumpukan kekesalan kita karena tidak bisa mengatasi masalah dengan baik dan merupakan upaya untuk melemparkan kesalahan pada anak kita. Dan setelah selesai marah kita akan menyesal dan cenderung tidak konsisten terhadap apa yang telah kita tetapkan. Rasa menyesal ini juga sering kita ganti dengan memberikan dispensasi atau membolehkan hal-hal yang sebelumnya kita larang. Bila hal ini terjadi, anak kita akan selalu berusaha memancing kemarahan kita, kemudian kita kembali menyesal dan si anak menikmati hasilnya.

    Apa yang sebaiknya kita lakukan?
    Jangan pernah bicara pada saat marah! Pergilah menghindar hingga amarah reda. Setelah itu bicara “tegas” dan bukan berbicara “keras”. Bicara tegas adalah bicara dengan nada yang datar, dengan serius dan menatap wajah serta matanya dalam-dalam. Bicara tegas adalah bicara pada saat pikiran kita rasional. Sedangkan bicara keras adalah pada saat pikiran kita dikuasai emosi, sehingga kata-kata kita tidak bisa terkontrol. Anak yang dimarahi cenderung tidak bertambah baik, ia akan menimpali dengan kesalahan yang sama. Maka bertindaklah tegas jika kita ingin anak kita menjadi lebih baik.

    Kebiasaan 15 :
    Gengsi untuk menyapa
    Kita pasti pernah mengalami bahwa kita telanjur marah besar terhadap anak, biasanya amarah terbawa selama berhari-hari, sehingga hubungan kita dengan anak menjadi renggang.

    Apa akibatnya?
    Akibat rasa kesal yang masih tersisa dan ditambah “gengsi”, kita enggan menyapa anak kita. Masing-masing pihak menunggu untuk memulai kembali hubungan yang normal.

    Apa yang sebaiknya kita lakukan?
    Kita sebagai orang tua yang harus memulai saat anak mulai menunjukkan tanda-tanda perdamaian dan mengikuti keinginan kita, jangan tunda lagi, dan bukalah pembicaraan dengannya. Ajaklah kembali bicara seperti biasanya, jika perlu mintalah maaf atas apa yang telah terjadi diantara kita dan anak kita. Anak pun akan ikutan meminta maaf, sehingga tanpa disadari oleh si anak, dia akan merasa bahwa kita tidak suka pada sikap anak kita dan bukan pada pribadi anak kita.
    [....bersambung]
    Read More...
    Our Fans Page
     
    Aircraft carrier : Slider Demo Costa Atlantica : Demo Slider Fred. Olsen Cruise Lines : Easy Slider Demo
    Copyright (c) 2012 Web Design by Neo Desain
    Sponsored by : Indoiklanmedia